Miracle


posted by Tyara Mandasari on

No comments

Aku yakin dan percaya, bahwa tidak ada kebetulan di dunia ini. Semua hal yang terjadi memiliki artinya sendiri, sekecil apa pun itu. Aku pun yakin dan percaya bahwa kita akan mendapatkan banyak cobaan dan ujian dalam kehidupan. Semuanya bukan untuk menyiksa kita, tapi untuk membuat kita "naik kelas", setelah melewati ujiannya tentu saja. Bukankah di sekolah kita belajar, lalu mengikuti ujian, dan akhirnya naik kelas? Yah, begitulah hidup. Kita diberikan ujian agar kita menjadi orang yang lebih baik, tentunya hal ini hanya berlaku bagi orang yang berhasil melewati ujian dan dapat mengambil hikmah dari semua kejadian yang menimpanya.

Saat ini, Tuhan sedang mengujiku, dengan cara mendatangkan sesuatu dan menariknya kembali dari hidupku. Aku memberikan nama kepada sesuatu itu, Temptation. Temptation begitu indah pada saat itu, dan aku pun menyayanginya sepenuh hati, betul-betul menjaganya dengan kedua tanganku serta seluruh jiwaku. Tidak, aku tidak berlebihan, begitulah adanya. Hingga akhirnya Tuhan menariknya dariku.

Ketika Tuhan mendatangkan Temptation, terdapat sebuah buku yang menyertainya. Buku itu ditulis oleh si pembuat Temptation, bukan oleh Tuhan. Di buku tersebut tertulis semua kelebihan dan janji-janji manis serta kebahagiaan yang aku dapatkan apabila aku mau menerimanya. Siapa yang tidak mau bila diiming-imingi dengan kebahagiaan? Tentunya tidak ada, bukan? Maka, aku pun dengan senang hati menerimanya, dengan sepenuh hati menyayanginya, dan dengan sepenuh jiwa menjaganya. Aku menghabiskan banyak waktuku dengannya. Begitu menyenangkan, sampai aku merasa aku tidak akan sanggup hidup tanpanya.

Sampai suatu ketika, Temptation mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan. Aku masih menyayanginya dan masih setia untuk terus menjaganya dengan kedua tanganku, walaupun Temptation tidak seindah dan semenyenangkan dulu. Namun, kerusakannya makin parah. Ketika aku berusaha untuk memperbaikinya, tanganku terluka, tapi hanya luka goresan. Sayangnya, Temptation belum benar juga, maka aku pun mengabaikan luka goresan itu dan terus memperbaikinya. Hingga satu goresan menjadi dua, menjadi tiga, menjadi empat, menjadi luka yang besar, dan akhirnya kedua tanganku berdarah-darah. Dan pada saat itu, aku pun bertanya pada Tuhan, mengapa begini? Mana janji-janji manis yang tertulis di buku? Mana kebahagiaan yang aku tunggu? Mengapa rusak? Mengapa malah membuat tanganku terluka hingga berdarah-darah? Bagaimana cara memperbaikinya? Mengapa semakin aku perbaiki, bukannya makin benar malah makin melukai tanganku, hingga kini bahkan ku tak sanggup untuk menggenggam?

Begitu banyaknya pertanyaan yang aku lontarkan kepada-Nya. Sampai pada akhirnya dia menjawab semuanya dengan menarik Temptation dariku. Beserta bukunya. Tanpa penjelasan. Aku sedih tentu saja. Walaupun dia telah rusak dan menyebabkan tanganku terluka hingga berdarah, aku masih menyayanginya, tulus sepenuh hati. Dan aku berusaha mempertahankannya. Tapi Tuhan lebih kuat lagi menariknya. Dengan kondisi tanganku yang sudah tidak sanggup menggenggam karena rasa sakit yang begitu besar, aku pun merelekannya.

Sedih? Kecewa? Marah? Tentu saja!
Lalu, aku pun berpikir...

Ketika Tuhan mendatangkan Temptation beserta bukunya kepadaku, aku memang sangat membutuhkannya saat itu. Ya, aku benar-benar sadar akan hal itu. Saat itu, itulah yang terbaik. Aku yakin, Tuhan hanya akan memberikan yang terbaik dalam hidupku.

Ketika Temptation mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan, aku tidak pernah meminta kepada Tuhan untuk Dia menariknya dariku. Jangan! Karena aku masih akan memperbaikinya. Aku yakin aku sanggup memperbaikinya, walaupun tanganku dibuat luka olehnya. Tidak apa-apa, aku masih sanggup.

Ketika tanganku sudah semakin terluka hingga berdarah dan Temptation malah semakin rusak, aku masih mencoba terus memperbaikinya. Namun kali ini, aku meminta kepada Tuhan untuk menunjukkan jalan terbaik. Dan Tuhan pun menariknya dari hidupku.

Sekarang, aku yakin dan percaya bahwa ini memang jalan yang terbaik dari Tuhan. Tuhan begitu sayang kepadaku. Ia tidak membiarkan aku terus menyakiti diri sendiri dengan terus menjaga dan memperbaiki Temptation. Tuhan pun menarik bukunya kembali, karena Ia tahu penulisnya hanya menulis kata-kata manis dan indah namun tanpa arti. Kosong!

Aku yakin dan percaya bahwa ketika Tuhan mengambil Temptation beserta bukunya dariku, Ia akan menggantinya dengan yang baru, dengan yang lebih baik, dengan buku yang tidak hanya berisi kata-kata kosong. Atau mungkin, Ia akan memperbaiki Temptation dengan tangan-Nya dan menulis ulang bukunya, agar layak untuk diberikan lagi kepadaku.

Aku pasti akan mendapatkan Temptationku kembali atau mendapatkan "Temptation" yang baru. Yang akan abadi menemaniku dan memberikan kebahagiaan nyata kepadaku. Bukan hanya kata-kata kosong. Saat ini, aku sedang diminta oleh Tuhan untuk menikmati hidupku, menikmati hari-hari tanpa harus mencemaskan Temptation, menikmati setiap udara yang berhembus tanpa harus mencoba untuk memperbaiki Temptation yang membuat tanganku terluka.

Ini bukan jalan yang menyenangkan, tapi ini jalan yang terbaik. Dan ini menjadi pelajaran yang amat sangat berharga dalam hidupku. Kebahagiaan sedang menungguku di suatu tempat, dan aku harus berusaha untuk terus berjalan dan meraihnya. Aku percaya.