Beautiful Man, Beautiful Friend


posted by Tyara Mandasari on

No comments

I just read my friend's blog, her name is Dhea, while the blog is GoBlog http://nanditadhea.blogspot.com
She posted a lyric of a song titled He Heals Me by India Arie. I'm really amazed by that lyric because it represents myself, my thinking and feeling as well.

And, here is the lyric

He Heals Me

I told him my biggest secret
And he told me four
He smiled at me and said
That makes me love you more
And then he made me laugh
And I knew it was a sign
That he was a man
That I wanted in my life
And with every passing day
I feel more and more of that way
He heals me, he knows the real me
And he accepts me, he never hurts me
He heals me, he knows the real me
And he accepts me, he never hurts me
He heals me, he heals me
I can play him songs all through the night
And he will listen to every line
And even when I'm wrong, he is still kind
He chooses his words wisely
When he tells me I'm not right
And yes, he is a beautiful man
But he is also a beautiful friend
The moment that we met, he made me smile
He has so much compassion in his eyes
I have no idea, how long he'll be here
A season or a lifetime, forever or a year
But for the first time in my life
I'm not worried about the future
Because we have such a wonderful time when we're together
However things turn out, it's all right
'Cause he's already changed my life

Start from "And yes, he is a beautiful man, but he is also a beautiful friend..." until end, that's what I really think about someone.

I ever posted "Is It Wrong?" on this blog on June 22, 2012 where I wrote "I choose enjoying what I feel now, instead of worrying what will happen later." and also "That I know for sure is I don't wanna lose him as a friend. If fate puts me and him together, he will be my lifetime 'friend'. If destiny wants me and him separated, he will be still my friend. Whatever future will bring, I will keep him as my friend, since he is a precious friend of mine." Those lines of "Is It Wrong?" have the same meaning as the lines "I'm not worried about the future..." till end. That's true that I have no idea how long he'll be here, but I'm not worried at all. And yes, it is first time in my life.

All My Way


posted by Tyara Mandasari on

No comments

Is it me who's heartless, or them who are too sensitive?

Pertanyaan itu muncul karena seringnya gue scrolling timeline Twitter dan menemukan fakta bahwa ternyata banyak ya yang susah banget untuk move on atau stuck in the past. Penting nggak penting sih, tapi cukup bikin gue gemes juga ternyata. Moreover, beberapa akun yang isinya quotes, such @ihatequotes, @BestQuoteDaily, dan akun-akun lainnya yang berasal dari Indonesia atau dari luar, yang cukup banyak ngetwit soal wejangan untuk move on atau malah kata-kata yang menyuratkan kalo kita itu sering banget stuck in the past. Contoh, "@ihatequotes: Sometimes we can't deny the truth that the one who has hurt you is still the one you'll always choose to love." dan diretweet sebanyak 109 kali, terakhir sampai gue posting tulisan ini. Atau "@BestQuoteDaily: And I guess what I'm trying to say is that without you, I just don't know what I'm doing anymore...".  Interpretasi orang memang bisa beda-beda sih soal twit itu, tapi menurut gue twit itu jelas bilang kalo kita nggak bisa move on. Again, menurut gue.

Nah, pertanyaan itu akhirnya benar-benar muncul, karena gue merasa gue mudah banget untuk move on. Gue bisa move on, dalam arti hilang rasa atau bisa dibilang ngelupain, hanya dalam waktu dua bulan setelah putus. Dan, perlu diketahui juga, pacarannya memang baru sebentar, 9 bulan, tapi hubungannya itu udah serius banget dan tinggal lamaran resmi aja. Ha! Gue pun nanya sama diri sendiri, "Am I too indifferent? Heartless? Why is it so easy for me to move on? Why is it so hard for them?".

Sampe sekarang sih gue masih nggak ngerti kenapa banyak orang yang susah untuk move on. Tapi, tebakan gue sih kayaknya karena nggak mau. Ya, masalah apa pun adalah bukan soal bisa atau nggak bisa, tapi mau atau nggak mau. Selama kita mau, sesulit apa pun masalah pasti bisa dilalui.

Kalo bagi gue sendiri, kenapa gue gampang untuk move on, yang paling utama adalah keinginan. As I said, kemauan itu nomor satu. Gue mau bahagia, gue harus bahagia. Gimana caranya bahagia? Simple, ikhlas dan bersyukur. Ikhlas untuk segala hal yang terjadi dengan diri kita, dalam arti terima keadaan. Orang bilang bahwa ikhlas itu susah. Memang! Siapa yang bilang gampang? Setelah ikhlas, syukuri semua hal yang terjadi, termasuk hal yang kita anggap buruk, such putus dari pacar atau bahkan tunangan. Kenapa hal yang buruk kok disyukuri? Bisakah? Bisa! Mudahkah? Nggak! Nggak ada yang bilang mudah. Ikhlas dan bersyukur adalah dua pelajaran paling sulit yang gue lalui dalam hidup. Susah sih memang, tapi ternyata bisa, buktinya gue bisa, kenapa orang lain nggak.

Trus, gimana caranya untuk belajar ikhlas dan bersyukur? Nggak bermaksud ngajarin, cuma sharing pengalaman aja. Cara ikhlas dan bersyukur yang pertama yang gue lakukan adalah menerima kenyataan saat ini! Ingat, bukan kemarin, bukan kemarinnya lagi, bukan besok, tapi sekarang! We live in the present, so just live for today! Kenyataan hari ini misalnya buruk, jalanin! Jangan pernah takut atau berpikir aneh-aneh soal kemarin atau besok. Ingat, hidup itu kadang di atas kadang di bawah, senang dan sedih. Setelah kita bisa terima kenyataan sepahit apa pun itu, ke depannya akan lebih mudah.

Tahap berikutnya adalah berdoa. Klise? Yes, but it is true and indeed important. Doa adalah bentuk menyerahkan diri ke Tuhan. Itu definisi gue ya, boleh setuju boleh nggak. Doa yang gue maksud di sini adalah doa yang benar, dalam arti berdoa meminta petunjuk untuk jalan yang terbaik. Percaya deh, kalo kita tidak meninggalkan Tuhan, Dia juga nggak akan pernah meninggalkan kita. Bagi gue, Tuhan adalah tempat curhat terbaik, karena gue bisa cerita apaaaaa aja tanpa ragu dan gue akan dapat jawaban terbaik dari yang terbaik. Just try it, it's very amazing!

Yang ketiga yaitu jangan bertanya 'kenapa'. Ini memang naluriah ketika hal buruk terjadi, kita akan cenderung bertanya, 'kenapa, Tuhan?' atau 'kenapa ini menimpa saya?' atau 'kenapa jadi begini, apa salah saya, Tuhan?' atau 'kenapa Kau pertemukan hamba dengannya, tapi akhirnya Kau pisahkah kami?'. Pasti banyak yang bertanya begitu kan? Lebih baik nggak usah ditanya deh, karena tanpa ditanya pun nanti jawabannya akan muncul sendiri, seiring jalannya waktu. Jadi, yang diperlukan di sini adalah sabar. Sabar untuk menunggu jawabannya.

Selanjutnya, percaya! Percaya pada apa? Percaya pada rencana Tuhan. Sering dengar 'manusia hanya berencana, Tuhan yang menentukan', kan? Nah, kata-kata itu maknanya dalam loh kalo kita resapi dengan baik. Mudahnya adalah, percaya bahwa kalo kita memang dipisahkan saat ini, itu adalah hal yang terbaik. Jangan ada kata 'tapi'. Have faith!

Ketika kita putus atau berpisah dengan orang yang begitu kita sayang, maksud dari 'ini yang terbaik' memang nggak akan keliatan saat ini juga. Ya jelas dong, kita lagi sedih-sedihnya, mana bisa kita anggap hal itu sebagai jalan yang terbaik. Tapi jangan khawatir, suatu saat kita akan tau segalanya. Yang paling penting adalah tetap percaya dan buka hati juga pikiran agar jawaban itu bisa masuk sendiri.

Terus, gimana caranya ngelupain sang mantan itu? Metode gue cukup sederhana. Satu hal, gue nggak mau meratapi nasib. Kan percaya nih kalo Tuhan sayang sama kita, jadi kalo kita putus saat ini, pasti akan ada gantinya yang lebih baik. Atau, bisa jadi orang yang sama, tapi bukan sekarang waktunya. Maka, sabar itu penting banget di masa-masa seperti ini. Terus, gue termasuk tipe orang yang nggak suka kalo ada orang tau gue lagi patah hati, karena gue selalu beranggapan kalo banyak orang tau, si mantan pun akan tau. Nah, itu yang nggak gue mau, gue nggak mau mantan menganggap gue 'lemah' dan masih begitu sayangnya sama dia, walaupun itu kenyataannya. Gue harus membuat si mantan itu tau kalo gue amat sangat baik-baik saja tanpa dia. Jangan salah, itu salah satu cara ampuh untuk membuat si mantan frustasi loh, apalagi kalo mantan itu punya tingkat percaya diri tinggi dan sedikit arogan. It's one of a pleasure buat gue, jadi untuk yang ini boleh setuju, boleh nggak, haha.. Bagi gue, the best way of revenge is showing that you're happy without him.

So, there are my methods, and you can find yours. Dan, for your information, gue udah dapat jawabannya, walaupun gue nggak pernah bertanya. Oh iya, satu lagi, kecenderungan orang stuck in the past adalah karena hidup dalam kenangan. Let me say this: Don't just make your memory as a memory, but make it as your precious experience which you can learn from, so that you will know either it's a mistake or not. Menganggap masa lalu hanya sebagai kenangan dampaknya akan beda banget dengan menganggap masa lalu sebagai pengalaman. Kenapa? Coba jawab sendiri... ;-)

I guess, it's not me who's heartless. It's them who are too sensitive. Adiós!


ps: actually, this post was inspired by my conversation with my best friend, Diana @ddiiamond. So Bu, this is dedicated for you, not because you don't move on, but because you still need to learn.

Is It Wrong?


posted by Tyara Mandasari on

No comments

I was thinking for a long time, considering... Should I post this or shouldn't I? I need a very brave heart posting this one. And well, why shouldn't I?

I keep wondering all this time, asking myself, "Is it wrong?" and "Am I wrong?" and "Where have I been?". Also saying to myself, "I was so stupid!"

And now, you must be wondering what it is all about actually. hahahaha...

The story starts here...

I have an old friend. We've been friend for seven years, more or less. We're not a close friend, yet we communicate to each other well. Yeah, not that well, but not bad. For sure, we're just friend. However, I actually am not sure how it happens, now we become a little bit closer to each other. This one is something that I've never thought about before. Our closeness is so...what should I call it? Mmmm, Accidental? Coincidental? Because, whenever I think about it, it's just so weird that I can not get it. Well, I just can't get it.

We're closer now. We communicate more often. We know about each other quite well. We joke around. We discuss many things. We tease each other. We talk, we laugh. Nonetheless, I won't talk about us, I will only talk about me. It's all about my feeling, while I don't know about his, and I'm not a kind of person who concludes anything based on feeling. Since I'm so logical, I need facts and proofs. So, again, I don't know about his feeling at all, and I never wanna guess, thus it's all just about me.

I feel comfortable having a chat with him. I feel happy when I talk to him. I feel like he's so smart, so I can converse many things with him, share everything that I wanna share and ask his opinion about whatever. The funny things are I'm not shy to tell him many things and to express my thoughts about anything, even I don't mind if he sees my foolishness or silliness. I usually don't want someone can see my flaws.

In the beginning, I asked myself, "why?". Then I thought about it clearly in my mind, looking for an answer, but I found nothing. So, I saw clearly to my heart, begging sincerely. And I just knew then. Aaa...so I like that person.

Therefore I wonder, "Is it wrong?"

Is it wrong to like someone who is actually a friend for so long? Am I wrong if I like my old friend? Why now? I mean he's my friend for years, why just now? Where have I been for all that time? Did I just realize about his existence? I was so stupid then.

Yes, I have to admit that I like him. Yet, I am happy about it. I don't feel worried about my feeling towards him. I don't think about it, I just feel it, let my heart speak louder than before. Well, it's quite new for me, because usually I let my mind speak and force my heart to shut. Ya, I am happy.

I enjoy every moment, every beat of my heart, everything that I feel and every feeling which I have for him. I choose enjoying this feeling inside my heart towards him, instead of worrying about his feeling towards me. I choose enjoying what I feel now, instead of worrying what will happen later. The future will eventually come and I will find out in the end. Let it be.

Is it wrong? I still don't know the answer. That I know for sure is I don't wanna lose him as a friend. If fate puts me and him together, he will be my lifetime 'friend'. If destiny wants me and him separated, he will be still my friend. Whatever future will bring, I will keep him as my friend, since he is a precious friend of mine.

So, is it wrong?

Semburat Merah di Ufuk Timur


posted by Tyara Mandasari on

No comments

Siang dan malam.
Matahari dan bulan.
Panas dan dingin.
Kemarau dan hujan.

Tuhan menciptakan dua hal yang bertentangan di alam semesta ini. Bila kita mengamati dengan jeli, kita akan menemukan maknanya bagi kehidupan kita. Jujur, saya baru mengerti beberapa tahun belakangan ini. Ya, bisa saja saya terlambat tau, tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, kan?

Dua sisi kehidupan, terang dan gelap. Seperti banyak orang bilang, hidup itu seperti roda, kadang di atas dan kadang di bawah. Namun, saya lebih suka menyebut hidup itu seperti siang dan malam, ada terang dan ada gelap. Alasannya sederhana, roda adalah buatan manusia, sedangkan siang dan malam adalah buatan Tuhan. Saya lebih suka mengibaratkan sesuatu dari alam, kreasi Sang Maha Pencipta.

Siang itu terang. Saya mengumpamakan siang sebagai "di atas". Ketika matahari memancarkan sinarnya, segalanya jadi lebih berwarna, lebih menyenangkan. Akan tetapi, siang tidak selalu terang. Akan ada waktu di mana mendung, hujan, bahkan badai menyelimuti siang. Akan ada waktu di mana "terang" diisi dengan "pernak-pernik siang". Hal ini pasti terjadi dan pasti sementara.

Malam itu gelap. Ketika siang berganti malam, segalanya menjadi gelap. Saya mengumpamakan malam sebagai "di bawah", karena sulit sekali melihat dan berjalan di saat gelap. Terlebih lagi bila malam disertai badai, segalanya bertambah kelam dan mengerikan. Ketika ini terjadi, berlindunglah, dan tunggu hingga badainya reda. Namun, di saat malam terkadang juga dihiasi bulan dan bintang. Masih ada cahaya di saat matahari sudah tenggelam. Akan ada waktu di mana "gelap" diisi dengan "pernak-pernik malam". Hal ini pasti terjadi dan pasti sementara.

Saya memang mengibaratkan malam yang gelap sebagai "di bawah" dan siang yang terang sebagai "di atas", tapi bukan berarti malam itu duka dan siang itu suka. Saya selalu percaya bahwa suka dan duka adalah pilihan, bukan takdir. Begini mudahnya, ketika siang tiba, ketika berada "di atas", apakah semua orang bahagia? Ketika malam tiba, ketika berada "di bawah", apakah semua orang berduka? Jawabannya tentu saja belum tentu. Jadi, bahagia atau tidak sama sekali tidak bergantung dari terang atau gelapnya kehidupan.

Terang dan gelap akan selalu hadir dalam hidup kita, seperti halnya dalam hidup saya. Selama 23 tahun saya di dunia, saya menyadari bahwa saya mengalami siang dan malam yang cukup seimbang yang diisi dengan pernak-perniknya. Dan untuk saat ini, bumi saya masih malam. Sempat terjadi hujan dan badai yang sangat kencang menerpa malam saya, tapi sekarang sudah reda, dan bulan baru saja muncul. Sudah ada cahaya di malam saya.
Semburat Merah di Ufuk Timur

Sekarang, saya sedang menikmati malam yang diterangi cahaya bulan. Saya memilih menikmatinya sambil menunggu munculnya semburat merah di ufuk timur. Ya, saya menunggu datangnya fajar.